Jumat, 23 Agustus 2024

DAY 1 - Perasaan dan Doa

23 AGUSTUS 2024 - DAY 1

    Dini hari ini setelah melewati malam yang menyenangkan billiard dan bercerita dengan kawan kawan, aku mengalami salah satu hal yang paling menyakiti hatiku. Ya, kami putus. Aku yang selalu dengan lantang mengatakan bahwa kami tidak akan putus apapun yang terjadi tak mampu lagi membuatnya yakin. Pendiriannya sudah bulat, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bagiku semua ini terlalu tiba-tiba. Dia bilang bahwa cuma ini satu-satunya jalan, dia ingin memperbaiki diri, dia sudah merasa nyaman dan ingin mencoba berjalan dengan jalannya sendiri. Tanpa aku dalam perjalanannya.

    Aku merasa sangat terpukul, melihatnya telah membuat keputusan. Aku hanya mampu pasrah, begitu banyak argumen yang ingin kusampaikan untuk membuatnya mungkin ingin memikirkannya ulang tapi aku tak mampu. 'Aku tidak boleh egois' pikirku, sebenarnya aku begitu senang mengetahui bahwa dia sudah mampu menemukan jalannya sendiri. Tapi sedihnya, tidak ada aku dalam perjalanan tersebut. Aku hanya mampu menanyakan hal-hal yang kupikir akan sedikit mengobati perasaanku. 'Kita tetap menikah kan?' kataku. Jawaban 'Iya janji kita pasti menikah' ternyata tak mampu mengobatinya, entah apa yang sebenarnya ku inginkan. Aku juga tak mampu menahannya, baginya mungkin keputusan ini juga sulit. Aku tak bisa menghilangkan pertanyaan "kenapa harus putus?" dalam pikiranku. Menurutku kami masih bisa melewati ini bersama. 

    Namun aku menghargai keputusannya, aku mencoba menerima keputusannya. Setidaknya ketika aku mengetahui bahwa dia sudah mampu bertahan dalam kehidupannya membuatku sedikit lega. Kami berbincang mengenai apa yang akan selanjutnya kita lakukan bersama. Bertemu sebulan sekali, setidaknya aku masih diberi waktu untuk bertemu dengannya, meski kini Minggu bukan lagi hari yang selalu kutunggu. Dengan perasaan yang masih carut marut aku pun tertidur.

    Pagi pun tiba, seketika perasaan hampa itu tiba. Perasaan yang sangat sangat aku benci. Perasaan yang dulu pernah kurasakan, namun tidak pernah sekental ini. Kuawali hari tanpa rutinitas sehari hari, ucapan 'have a nice day' andalanku yang kadang terlupa kuucapkanpun kini tak mampu kuucapkan. Sebenarnya 3 hari sebelumnya sudah seperti ini, bedannya kemarin aku merasa semua ini akan berakhir baik - baik saja.

    Hari terasa begitu lama, jam bagai tak bergerak. Dikantor perasaan kantuk dan lelah menyerangku, setiap saat kulihat jam aku hanya ingin segera istirahat pulang. Sholat jumat yang bahkan tidak kuingat apa kultumnya. Kuberdoa supaya segera mampu dikuatkan dalam menjalani kehidupannku kedepannya. 

    Waktu pulang pun tiba, tidak ada lagi kabar yang pulang kusampaikan. Perasaan itu datang lagi, namun kali ini kantuk berada dipihakku, aku tertidur. Kupikir aku menang dari perasaan itu, ternyata perasaan tersebut datang lagi dalam bentuk mimpi. Ya, aku memimpikannya. Lebih tepatnya aku memimpikan kejadian semalam, di dalam mimpi tersebut aku mengutarakan semua perasaan terpendamku, pertanyaan petanyaan yang sebelumnya tak mampu kutanyakan pun kutanyakan. Namun dalam mimpi itu hal-hal tersebut tidak membuat perbedaan. 

    Kusampaikan apa yang kurasakan di Story WA, melihat balasannya pun aku senang sekali. Namun aku juga merasa bersalah, aku hanya seorang pria labil yang tidak mampu menata perasaannya sendiri. 

    Terlepas dari semua itu, aku berdoa agar semua ini akan berakhir baik. Semoga dia berhasil menjalani hidupnya dengan menyenangkan, bertemu dengan teman-teman yang baik, mempelajari hal-hal yang baru dan semoga kami akan bersama kembali suatu saat nanti.

nb :

anjir ternyata aku suka menulis, ini akan ku upload online. Siapapun mampu membacannya jika menemukan blog ku. Tapi, tulisan ini hanya ku tujukan ke orang yang begitu spesial bagiku. Orang yang bagiku tidak tergantikan. Mulai hari ini hingga nanti waktu kami bersama kembali telah tiba aku akan berusaha mencoba menulis perasaan dan kegiatanku setiap hari.